Langsung ke konten utama
MarsadaCipta Digital

Strategi Bisnis

Biaya Admin Marketplace Naik Terus: Rincian 2025–2026 & Strategi UMKM Bertahan

6 menit bacaTim Marsada

Jika Anda seller UMKM di marketplace, Anda pasti merasakannya: potongan per pesanan makin besar, sementara harga jual tidak bisa ikut naik karena persaingan ketat. Ini bukan perasaan Anda saja — sepanjang 2025 hingga 2026, hampir semua marketplace besar di Indonesia menaikkan biaya layanannya secara bertahap.

Rincian kenaikan biaya marketplace 2025–2026

  • Tokopedia menaikkan biaya layanan hingga maksimal 10% untuk hampir semua kategori sejak pertengahan 2025, ditambah dynamic commission fee 4–6% di atas komisi platform per kategori.
  • Shopee menambahkan biaya proses pesanan (order processing fee) per transaksi di atas komisi kategori dan program gratis ongkir yang sudah ada. Dalam skema tertentu, total potongan bisa melebihi 17% dari nilai transaksi.
  • Per Mei 2026, gelombang penyesuaian tarif baru berlaku serentak — seller dikenakan biaya administrasi final sekitar 2,5% hingga 11,7% tergantung kategori dan tipe toko, belum termasuk biaya iklan internal.
  • Menurut laporan Katadata, jika dijumlahkan dengan biaya iklan, program promo, dan komisi afiliasi, total biaya berjualan di marketplace bisa menembus 30% dari omzet.

Bagi produk bermargin tipis — makanan, fashion, produk rumah tangga — potongan sebesar itu artinya bekerja keras untuk platform, bukan untuk usaha sendiri. Banyak seller mengaku margin bersihnya tinggal satu digit.

Kenapa biaya marketplace akan terus naik?

Marketplace selama bertahun-tahun membakar uang untuk subsidi ongkir dan promo demi merebut pengguna. Kini investor menuntut profitabilitas, dan sumber pendapatan paling cepat adalah komisi seller. Pola yang sama terjadi di berbagai negara: setelah pasar dikuasai, biaya untuk penjual naik perlahan namun konsisten. Artinya, mengandalkan 100% penjualan dari marketplace sama dengan menyerahkan kendali biaya usaha Anda kepada pihak lain.

5 strategi UMKM menghadapi kenaikan biaya

  • Hitung ulang HPP dan margin per kanal. Pisahkan margin di marketplace vs kanal sendiri agar tahu kanal mana yang benar-benar menguntungkan.
  • Jangan tutup toko marketplace — jadikan etalase akuisisi. Marketplace tetap bagus untuk menjangkau pembeli baru yang belum kenal brand Anda.
  • Bangun kanal milik sendiri: website dengan katalog dan checkout, terhubung WhatsApp. Di kanal ini margin Anda utuh 100%.
  • Kumpulkan data pelanggan. Setiap pembeli di marketplace adalah pelanggan platform, bukan pelanggan Anda. Arahkan mereka ke WhatsApp atau website agar bisa ditawari produk lagi tanpa biaya iklan.
  • Rawat pelanggan lama. Biaya menjual ke pelanggan lama jauh lebih murah daripada mencari pembeli baru lewat perang harga dan iklan di marketplace.

Website sendiri: dari biaya jadi aset

Bandingkan: potongan marketplace 15–30% berlaku selamanya dan bisa naik kapan saja. Website sendiri dibayar sekali (plus perpanjangan domain-hosting yang murah), lalu menjadi aset yang nilainya bertambah — halaman yang muncul di Google mendatangkan pembeli terus-menerus tanpa biaya per transaksi. Brand lokal yang sudah kuat pun kini ramai-ramai mengarahkan pelanggan ke website resmi mereka.

Marketplace itu seperti menyewa kios di pasar yang ramai. Website sendiri seperti memiliki tokonya. Yang cerdas memakai keduanya — tapi pastikan toko milik sendiri yang jadi pusatnya.

Marsada Cipta Digital membantu UMKM membangun website jualan mulai Rp1,5 juta, sudah termasuk domain, hosting, dan SEO dasar. Konsultasikan gratis lewat WhatsApp — kami bantu hitungkan mana yang paling masuk akal untuk skala usaha Anda.

Praktikkan Ilmunya dengan Website Sendiri

Konsultasikan gratis: kami bantu hitung paket paling pas untuk skala usaha Anda saat ini.